Ketika pikiran keruh dan hati terus saja mengeluh, mata akan rabun, tertutupi oleh embun air mata. 
Rabun untuk melihat betapa kemudahan begitu banyak menghiasi. 

Rabun untuk melihat betapa cinta sang kekasih begitu banyak memberi. 

Rabun untuk melihat betapa banyak penderitaan yang tidak jatuh ke diri ini. 
Bagiku detik ini, “melihat dari luar diri” adalah cara yang paling ampuh dalam membersihkan. 

Bercermin, dan melihat sosok yang ada disana adalah orang lain, 

atau pergi, melihat “aku” dan kehidupanku dari kejauhan.

Aku menyadari, berpindah sudut pandang begitu cepat mengubah rasa. 

Sampai-sampai aku meyakini, sudut pandang adalah kendali utama atas rasa.
Jika rasa hanya soal sudut pandang, apakah rasa bahagia masih pantas dijadikan tujuan? 

Betapa sialnya, karena kesedihan tak akan pernah berpisah dari kebahagiaan hingga akhir dunia. 
Poin permainan dunia ini,  nyatanya ada pada sikap. 

Kesedihan dan kesulitan dialami semua. Siapa yang lebih ringan menghadapinya?

Tentu saja. Ia yang mengambil sikap terbaik. 

Advertisements