Apakah perbandingan layak dilakukan jika standar yang dipakai hanya yang dapat terlihat oleh mata?

Seseorang yang saat ini berbuat benar, apakah lebih baik dari orang yang saat ini berbuat salah?

Seseorang yang emosional dan penuh keegoan dalam interaksinya, apakah lebih buruk dari seseorang yang memiliki ketenangan jiwa dan kearifan?

Jika menggunakan standar dari apa yang terlihat, tentu saja kita akan menjawab dengan tegas dan percaya diri, “Ya, tentu saja !”.

Tapi itu tidak adil.

 

Bukankah yang kita maksud lebih baik itu, hanyalah perilaku pada saat itu?

Perilaku dan jati diri.
Seharusnya dinilai dengan cara yang berbeda.

Menentukan bahwa perilakunya baik atau buruk, cukup dengan hanya melihat apa yang dilakukan.

Tapi untuk tau bahwa dirinya baik atau tidak, tak bisa sepicik itu.
Kita harus lihat bagaimana cara kerja tubuhnya dalam memperoleh informasi, lihat waktunya, lihat kesempatannya, lihat lingkungannya, lihat ilmunya, dan banyak lagi hal lain.
Sehingga kita tak mungkin menilai diri seseorang sampai hari pengadilan Allah datang.

 

Hai diri!

Apa kau mengira bahwa kebenaran yang engkau pahami itu datang darimu?

Jalanmu yang mulus dan lingkungan yang mendukungmu untuk memahami kebenaran, kau pikir kau yang membuatnya sendiri?

Keadaan hati dan pikiranmu saat ini yang bersih, sehingga engkau memilih jalan yang benar itu karenamu?

Dan perilaku yang muncul dari dirimu itu, sehingga engkau dipandang baik oleh semua orang, kau pikir itu semata-mata karena kau yang mengendalikannya?

Hai jiwa – jiwa yang sombong, bangkitlah dari kebodohanmu!

Lalu pikirkan! Bukankah semua itu karena rahmat Allah atasmu?

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

(QS. Ali Imron: 159)

Advertisements